Kemanakah Slank-ku Dulu?

Sebelum anda membaca tulisan ini, ijinkan saya memohon maaf yang sebesar-besarnya terhadap seluruh slankers di seluruh tanah air. Bukan maksud saya mendiskreditkan band idola anda, namun saya hanya ingin mengungkapkan rasa kekecewaan saya terhadap band yang dulu juga menjadi idola saya.

Ketika saya masih duduk di bangku SMA (sekarang SMU), saya adalah salah satu siswa SMA yang adalah penggemar berat Slank, walau saya tidak pernah bergabung secara keseluruhan terhadap apa yang sekarang disebut dengan nama Slankers. Saya suka band itu karena menurut saya, apa yang dimiliki oleh Slank, juga adalah impian saya ketika masih di SMA dulu.
Saya memiliki sebuah group band bersama teman-teman sekolah saya. Kami juga band sekolah yang sering tampil di beberapa acara, baik yang diadakan di sekolah atau oleh pihak sekolah, maupun acara-acara di luar sekolah. Saat Slank mengeluarkan album keduanya bertajuk “Kampungan,” ketika itu saya pas duduk di kelas 1 SMA. Saya beli kaset dari album tersebut dan coba saya dengarkan dengan baik dan saya baca semua tulisan yang terdapat pada sampul kaset tersebut. Dari situ akhirnya saya tahu bahwa Slank awalnya juga adalah band sekolah.
Saya suka semua lagu yang ada di dalam album Slank, terutama lagu yang berjudul “Terlalu Manis.” Bahkan lagu Slank yang berjudul “Mawar Merah” adalah lagu pertama yang saya pelajari ketika saya pertama sekali belajar memainkan alat musik drum. Banyak teman saya yang terkagum-kagum melihat saya memainkan lagu itu, sebab sebagai seorang pemain musik yang sangat pemula, saya mampu memainkan lagu itu dengan style yang sama dengan style yang dimiliki oleh Bimbim Slank. Itu semua dapat saya lakukan karena saya memang belum memiliki style permainan sendiri makanya saya mampu memainkan lagu itu dengan style yang dimiliki oleh Bimbim.

Menurut saya, Slank adalah sebuah band sekolah yang hebat karena mampu menciptakan lagu yang luar biasa walau saat itu saya tahu bahwa Slank sudah melangkah ke arah profesional. Salah satu lagu Slank yaitu “Terlalu Manis” malah hingga sekarang dianggap lagu abadi oleh tidak hanya para Slankers tapi juga oleh seluruh anak muda di Indonesia. Hingga sekarang juga lagu itu masih melekat erat di ingatan anak muda Indonesia.
Slank yang telah kehilangan jati dirinya
Pada suatu kesempatan, Slank tampil di Televisi dan ditanya oleh sang pembawa acara, kapankah masa keemasan bagi Slank, ketika itu Kaka menjawab bahwa Slank mengalami masa keemasan ketika Slank menelurkan album ketiganya. Menurut saya justru Slank mengalami masa keemasannya bukan saat menelurkan album ketiga, tapi pada saat mengeluarkan album kedua. Inilah saat Slank berada di puncak populasritasnya.

Mengapa saya berpendapat demikian? Karena ketika Slank mengeluarkan album ketiga, saya sudah mendengar selentingan yang mengatakan bahwa Pay, sang pencabik gitar Slank akan keluar dari group band yang sudah membesarkan namanya itu. Saya juga dengar kalau Pay merasa kecewa terhadap Bimbim dan Kaka yang sudah terlalu jauh terlibat dalam penggunaan Narkoba. Jadi saat itu sebenarnya sudah bukan masa keemasan lagi bagi Slank. Tapi karena saat itu Slank masih terikat kontrak dengan perusahaan rekaman, makanya Pay terpaksa menunda keputusannya untuk keluar dari groupnya tersebut.
Pada awalnya saya berpikir bahwa keputusan Pay untuk keluar dari Slank hanya sebuah ancaman kosong dari Pay terhadap Slank, namun Pay akhirnya menunjukkan bahwa pernyataannya itu benar setelah Slank selesai mengerjakan album kelima. Pay benar-benar keluar dari Slank.
Setelah Pay keluar dari Slank, saya merasa bahwa saya telah kehilangan idola saya. Slank sepeninggal Pay, bukan lagi band seperti band yang pernah saya idolakan dulu. Musik telah berubah total. Sebenarnya hal ini bisa saya maklumi, sebab tidak hanya Pay yang meninggalkan Slank, tapi juga Bongky dan Indra ikut keluar. Memang sebuah band akan kehilangan warna musiknya bila sudah ditinggalkan oleh tiga personilnya. Jangankan Slank, band dari luar negeri sono juga bakal mengalami perubahan warna musik bila sudah ditinggalkan oleh tiga personilnya.
Yang saya sesalkan dari Slank sepeninggal Pay dkk adalah, kenapa yang berubah tidak hanya warna musiknya tapi juga kwalitas musiknya. Lagu ciptaan mereka sudah sangat jauh berubah kwalitasnya dari lagu-lagu ciptaan mereka sebelum Pay hengkang dari group itu. Coba anda simak lagu-lagu Slank dari albumnya yang terdahulu dan bandingkan dengan lagu-lagu ciptaannya yang ada sekarang. Sudah sangat jauh berbeda. Inilah yang memicu kekecewaan saya terhadap idola saya tersebut.
Tidak hanya kwalitas musiknya, tapi juga kwalitas para personilnya juga sudah mengalami kemunduran. Kaka bahkan sudah kehilangan suara emasnya dulu sementara Bimbim sudah kehilangan permainan emas drumnya dulu. Kemana Slank-ku dulu. Kenapa Slank sangat jauh dari apa yang aku harapkan sepeninggal Pay. Kaka yang dulu memiliki suara yang dapat melengking, sekarang hanya dapat mengandalkan suara kepala untuk dapat tetap menyanyikan lagu-lagunya dari album terdahulunya. Sementara Bimbim, gebukan drumnya tak sebrat dulu. Ia hanya mampu mengandalkan sound system tangguh agar gebukan drumnya dapat didengar oleh telinga penggemarnya, tak lagi mengandalkan power tekanan terhadap pukulannya pada head drumnya. Yang saya kagumi dari Slank sekarang hanya Abdee yang petikan gitarnya patut diacungi dua jempol. Slank beruntung dapat memiliki gitaris itu.
Saya sangat kecewa dengan lagu-lagu Slank yang sekarang yang walau tidak melupakan gaya slengeannya, tapi sudah melupakan kwalitas dari musiknya itu sendiri. Sepertinya Slank sudah sangat terlena oleh kehebatan para fansnya yang sangat setia tetap mendukung mereka walau mereka tahu mereka sudah tidak mampu lagi menciptakan lagu-lagu yang luar biasa seperti dulu.
Simak saja lagu-lagu Slank sejak album keenam hingga sekarang. Slank tidak lagi mampu menciptakan satu lagu yang dapat dianggap sebagai lagu abadi oleh para Slankers atau oleh anak muda yang bukan menyatakan diri sebagai Slankers. Slank bahkan sudah kehilangan jatidirinya yang dulu. Tema lagunya tidak lagi luas seperti dulu. Lagu yang bertemakan kritik pedas terhadap orang-orang yang tidak menghargai gaya hidup slengean, kurang mengena dan ceritanya menjadi ngambang. Apa yang sebenarnya terjadi terhadap Slank saat ini? Sadarkah mereka bahwa mereka telah ditinggalkan oleh bakat luar biasa yang dulu mereka miliki? Kalau saya adalah salah seorang dari personel Slank, tentu saya sudah menyadari akan hal ini dan berusaha sekuat tenaga untuk memperbaikinya, bukan malah terlena oleh kesetiaan para penggemar saya yang berjubel banyaknya dan selalu mengelu-elukan nama band saya. Saya juga tak ingin penggemar berat saya kecewa dengan penampilan band saya di atas panggung.

Catatan ini dibuat Pada 12 Mei 2007 by Dion
Sumber : http://whitegun.wordpress.com/2007/05/12/kekecewaan-seorang-penggemar/

1 Response to "Kemanakah Slank-ku Dulu?"

  1. WoW...
    Ane sich cuma mau bilang
    "slank gak ada matinya"
    :plur:

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel